Tidak pasang wajah perangnya.“Kayak kemarinlah..,” ujarnya sambil mengangkat tabloid menutupi wajahnya.Begitu kebetulankah ini? Lalu memegang pahaku, “Yang mana..?”Yes..! Nobokep Masih ada esok. Tapi eh.., seorang penumpang pakai kaos oblong, mati aku. Atau kesialan, karena ia masih mengangkat tabloid menutupi wajah? Aku tidak dapat lagi memandanginya.Kantorku sudah terlewat. Masih terasa tangannya di punggung, dada, perut, paha. Ia menikmati, tangannya mengocok Junior.“Besar ya..?” ujarnya.Aku makin bersemangat, makin membara, makin terbakar. Lalu menyentuh Junior dengan sisi luar jari tangannya. Pletak, pletok, sepatunya berbunyi memecah sunyi. Ayo..!Aku masih diam saja. Namun, tiba-tiba keberanianku hilang. Ke bawah lagi: Turun. Ayo..!Aku masih diam saja. Mobil bergerak pelan, aku masih melihat ke arahnya, untuk memastikan ke mana arah wanita yang berkeringat di lehernya itu. Kesempatan tidak akan datang dua kali. Alamak.., jauhnya. Perempuan paruh




















