Sini Mas bikinin buat kamu.”Tanpa menunggu jawabannya aku langsung menunduk dan menyosorkan mulutku di celah itu. Bokep nggak apa-apa ya Mass..?” kali ini terdengar nada tanya kuatirnya. Wasti langsung ketawa geli mendengarnya. Mas ini mau ngeliat apa sih..?”
Wasti rupanya kikuk malu dengan perobahan mendadakku. Tangannya bergerak ingin menutup bagian itu tapi cepat kusingkirkan.“Kok mau ditutup sih, kan Mas kangen pengen ngeliat itil gedemu kayak dulu Was?”
“Hngg.. besok-besok bikinin lagi kayak gini ya?” kataku memberi pujian ketika permainan usai. Mas ini mau ngeliat apa sih..?”
Wasti rupanya kikuk malu dengan perobahan mendadakku. Kebetulan aku memang mengusahakan sebuah Panti Pijat yang sebetulnya dimodali Oom Rony, sehingga kehadiran Wasti bisa membantu mewakili aku sebagai orang kepercayaanku dalam mengawasi tempat pijat itu. Memang baru pertama kali buat dia tapi terasa ada kerinduan










