Mbak Wien sudah turun. Nobokep Kulihat di bawahku ada kain, ya seperti saputangan.“Itu kali Mbak,” kataku datar dan tanpa tekanan.Ia berjongkok persis di depanku, seperti ketika ia membersihkan paha bagian bawah. Tunggu apa lagi. Masih menutupi diri dengan tabloid. Oh.., aku hanya dapat menunduk, melihat kakinya yang bergerak ke sana ke mari di ruangan sempit itu. “Pelan-pelan suaranya kan bisa Dek,” sang supir menggerutu sambil memberikan kembalian.Aku membalik arah lalu berjalan cepat, penuh semangat. Lama sekali ia memijati pangkal pahaku. Aku masih di atas angkot. Toh, si setengah baya itu pasti sudah lebih dulu tiba di salonnya. Padahal, wajah wanita setengah baya yang di lehernya ada keringat sudah terbayang. Tapi mengelap dengan handuk hangat sisa-sisa cream pijit yang masih menempel di tubuhku.

