Suara itu lagi.Suara yang kukenal, itu kan suara yang meminta akumenutup kaca angkot. Iamenyenggol kepala juniorku. Nobokep Aku perhatikania sejak bangkit hingga turun. Di balik kain tipis, celanapantai ini ia sebetulnya bisa melihat arah turun naik SiJunior. Kaki disandarkan didinding. Ah sialan. Kali ini lebihbertenaga dan aku memang benarbenar pegal,sehingga terbuai pijitannya.Telentang..! Aku menggelepar.Sst..! Ini.., kutunjuk pangkal pahaku.Besok saja Sayang..! ujar wanita tadi dari jauh, lalu pergi kebalik ruangan ke meja depan ketika ia menerimakedatanganku.Mbak Wien.., udah ada pasien tuh, ujarnya dari ruangsebelah. Palingtidak aku dapat melihat leher yang basah keringatkarena kepayahan memijat. Tapi sebelum berlalu masih sempat melihatkusekilas. Aku berhasil. Agar kejadian kemarinterulang. Hariitu memang masih pagi, baru pukul 11.00 siang, belumada yang datang, baru aku saja.




















