Mengantisipasi cubitannya yg menyakitkan, kedua tangannya kutangkap dengan cepat. “Memangnya kamu sudah kenal, Zainal?”, tanyanya. Nobokep Dengan serta merta ditariknya celana pendek dan celana dalamku sekaligus disertai hembusan nafas beratnya yg makin menggebu. “Enak saja, aku yg rugi Mbak, perusahaan tdk mengasuransikanku dari cubitan”, kataku serius. “Rugi!”, jawabku singkat dengan bergurau tanpa kupikir akibatnya. Kucoba berputar-putar di sekitar teras. Kulihat Indah masih tergeletak dalam keadaan tidur nyenyak di ranjangnya. Malam itu aku hanya dapat tidur nyenyak tiga jam saja. Tanpa komentar sedikitpun aku meninggalkannya menuju kamar mandi sambil membawa pakaian ganti yg telah kuambil dari dalam tasku. Setelah memesan sarapan, Indah mulai membuka percakapan, tapi karena pikiranku masih di pekerjaan maka aku hanya berbicara sedikit.




















