Begitu kukecup kendarngnya, ia diam saja, mematung sambil menundukkan mukanya.Lalu kuangkat dagunya dan kucium bibirnya, kupeluk sepuas-puasnya. Nobokep hi..” sambil cekikikan.Dengan super hati-hati ia gerakkan juga pisau cukur mulai menghabisi bulu-bulu kemaluanku. Begitu pula ketika kulepas pakaianku. Nanti jika saya sakit, saya bilang deh..”“Bukannya apa-apa, saya geli hi.. Endar semakin terengah-engah menerima perlakuanku. Ujung kemaluanku seakan menyentuh dinding yang membuatku merasa geli bukan main. Soalnya di bagian ini susah nyukur sendiri…” kataku sambil kuulurkan pisau cukur padanya.“Mas Adi, ih..!” tetapi ia terima juga pisau cukurnya, sambil duduk di dekatku.Saya angkat celana yang tadi hanya kututupkan di atas kemaluanku.“Endar tutup dulu pintunya yach Mas..?”Dia menutup pintu depan dan pintu kamar. Selalu saja ada orang lain yang hilir mudik di kamarku. Bersamaan dengan itu, kemaluanku terasa diremas-remas. Begitu lidahku




















